Phimosis – Penyebab, Gejala dan Pengobatannya

Diposting pada

Fimosis

Phimosis atau fimosis merupakan kelainan pada penis pada anak atau pria yang belum disunat berupa kulup atau kulit kepala penis yang melekat pada kepala penis. Kelainan pada penis ini yaitu ketidakmampuan menarik kembali kulit penis atau kulup sebagai penutup kepala penis. Meskipun fimosis dikatakan sebagai kelainnan namun hal tersebut merupakan kondisi yang normal pada bayi dan anak-anak.

Jika fimosis terjadi pada anak kecil yang belum disunat, tetapi dalam penangannya tidak ada perawatan khusus pada kulup penisnya. Yang perlu diperhatikan anda disarankan untuk tidak menarik kulit kepala penis secara paksa, jika ditarik harus dilakukan dengan lembut. 

Ada dua jenis phimosis yaitu  fimosis fisiologis dan fimosis patologis, keduanya akan kita bahas secara singkat dibawah ini.

  1. Fimosis fisiologis terjadi pada anak kecil yang dilahirkan dengan kulup melekat pada kepala penis yang terjadi secara alami. Hal ini masih normal yang terjadi pada bayi atau anak kecil yang belum disunat lalu kemudian biasanya akan bisa sembuh ketika ia berumur 5 sampai 7 tahun.
  2. Phimosis patologis terjadi karena jaringan parut, infeksi atau peradangan. Akibatnya dapat menyebabkan jaringan parut, pendarahan juga trauma pada anak bahkan orang dewasa. Jika kondisi seperti ini terus dirasakan atau malah gejala yang dirasakan malah semakin parah, maka pengobatan dengan dokter kelamin mungkin diperlukan.

3 hal yang dapat menyebabkan Fimosis

Kondisi ini masih dapat dikatakan normal pada anak-anak yang belum disunat, khususnya anak usia di bawah 3 tahun. Setelah umur si anak beranjak 5 sampai 7 tahun biasanya kulup akan melonggar dengan sendirinya dan dapat ditarik kebelakang kepala penis. Untuk kasus fimosis pada anak kecil ini masih dikatakan wajar atau hal yang masih normal, kecuali jika fimosis terjadi pada orang dewasa. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada orang dewasa yang juga belum melakukan sunat sehingga membuatnya tidak normal. Penyebabnya phimosis pada orang dewasa yaitu :

  1. Jaringan parut yang terjadi karena adanya infeksi pada area sekitar kulup sehingga menyebabkan kulit semakin berkurang elastisitasnya.
  2. Penuaan yang membuat menurunnya serat kolagen sehingga menurunnya elastisitas kulit yang menyebabkan kulit kulup susah untuk ditarik ke belakang.
  3. Penumpukan smegma yaitu kumpulan sel kulit dan kulup bagian dalam yang terbentuk dari jaringan kulit mati di dalam ujung dan sekitar kepala penis. Ketika penumpukkan smegma ini terjadi akan menyebabkan kedua sisi kulit ujung penis menempel sehingga sulit untuk ditarik.

Smegma merupakan masa putih yang biasanya ada di sekitar kepala penis. Smegma terbentuk dari jaringan kulit mati yang di sekitar kepala penis dan bagian dalam dari ujung kulit penis. Penumpukan smegma dapat menyebabkan kedua sisi dalam ujung kulit penis, dapat menempel dan sulit ditarik ke belakang.

Gejala Fimosis

Fimosis pada anak yang belum disunat merupakan kondisi normal yang diakibatkan oleh menempelnya kulup ke kepala penis. Kulup penis anak akan merenggang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Kulup akan terlepas dengan sempurna umumnya pada usia 17 tahun. Meskipun umumnya fimosis pada anak merupakan kondisi normal, terdapat kondisi yang perlu diwaspadai pada penis anak, yaitu ketika kulup yang sudah terlepas tetapi menempel kembali atau kepala penis mengalami peradangan. Fimosis yang terjadi pada orang dewasa juga merupakan kondisi tidak normal. Orang dewasa yang mengalami fimosis dapat merasakan sakit, perih, dan menurunnya hasrat seksual.

Diagnosis Fimosis

Saat berkonsultasi dengan dokter, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh penderita, kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada penis. Setelah itu, dokter akan menentukan langkah pengobatan yang akan dijalani, tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang.

Komplikasi Fimosis

Meskipun fimosis pada anak-anak merupakan kondisi yang normal, fimosis dapat menimbulkan komplikasi berupa infeksi penis. Jika terjadi pada orang dewasa, fimosis dapat menimbulkan komplikasi seperti di bawah ini:

  • Fimosis yang terjadi secara
  • Posthitis atau inflamasi pada kulup.
  • Nekrosis atau pembusukan jaringan kepala penis.
  • Autoamputasi kepala penis akibat pembusukan jaringan.

Pencegahan

Mencegah terjadinya fimosis bergantung pada kebersihan area sekitar penis. Membersihkan daerah penis, termasuk ujung kulit bagian dalam dengan menggunakan air hangat setiap hari dapat membantu mengurangi atau mencegah gejala yang timbul. Hal ini membantu ujung kulit tetap longgar dan elastis serta mencegah terjadinya infeksi.

Pengobatan

Bagi orangtua yang anaknya mengalami fimosis, jangan sekali-kali menarik kulup penis secara paksa. Tindakan tersebut dapat memicu iritasi atau infeksi. Dokter akan memberikan langkah pengobatan jika fimosis menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Jenis pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan usia dan tingkat keparahan fimosis penderita. Berikut ini adalah jenis pengobatan yang dapat disarankan oleh dokter:

  • Obat-obatan. Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meredakan fimosis. Salah satu obat yang dapat digunakan adalah kortikosteroid topikal dalam bentuk krim, gel, atau salep. Obat kortikosteroid dapat membantu melenturkan kulup sehingga memudahkan untuk ditarik. Dokter juga dapat memberikan obat-obatan lain dengan penyebab fimosis. Jika pasien mengalami infeksi jamur, pasien akan diberikan krim antijamur. Sedangkan jika pasien mengalami infeksi bakteri, maka pasien akan diberikan krim antibiotik. Fimosis pada orang dewasa dapat menganggu aktivitas seksual karena menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri. Untuk mengatasinya, dokter dapat menyarankan penggunaan kondom dan pelumas ketika melakukan hubungan.
  • Sunat. Dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani sunat jika pasien mengalami balanitis atau radang kepala penis yang terjadi secara berulang, atau infeksi saluran kemih yang berulang. Sunat juga dapat dilakukan jika kulup menempel dengan sangat ketat.

Balanitis
Balanitis

Baca juga : Balanitis – penyebab, Tanda dan Pengobatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *