Apa Itu Phimosis.?

Diposting pada

     

 

 

Apa Itu Phimosis

     Phimosis atau fimosis merupakan kelainan pada penis yang belum disunat berupa kulup atau kulit kepala penis yang melekat erat pada kepala penis. Hal ini merupakan hal yang normal pada bayi dan anak-anak.

Penyebab Fimosis

Fimosis merupakan kondisi normal pada anak-anak yang belum disunat, khususnya anak usia di bawah 3 tahun. Setelah itu, kulup akan melonggar dengan sendirinya sehingga dapat digerakkan atau ditarik ke belakang kepala penis. Selain pada anak-anak, fimosis juga dapat terjadi pada orang dewasa yang belum disunat. Berbeda dengan anak-anak, fimosis pada orang dewasa merupakan kondisi yang tidak normal dan dapat disebabkan oleh:

  • Jaringan parut

Infeksi daerah sekitar kulup dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan membuat kulit akan semakin berkurang elastisitasnya.

  • Penuaan

Pada orang dewasa, penuaan membuat serat kolagen menurun, sehingga elastisitas kulit menurun dan menyebabkan sulitnya kulup ditarik ke belakang.

  • Penumpukan smegma

Smegma merupakan masa putih yang biasanya ada di sekitar kepala penis. Smegma terbentuk dari jaringan kulit mati yang di sekitar kepala penis dan bagian dalam dari ujung kulit penis. Penumpukan smegma dapat menyebabkan kedua sisi dalam ujung kulit penis, dapat menempel dan sulit ditarik ke belakang.

Gejala Fimosis

Fimosis pada anak yang belum disunat merupakan kondisi normal yang diakibatkan oleh menempelnya kulup ke kepala penis. Kulup penis anak akan merenggang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Kulup akan terlepas dengan sempurna umumnya pada usia 17 tahun. Meskipun umumnya fimosis pada anak merupakan kondisi normal, terdapat kondisi yang perlu diwaspadai pada penis anak, yaitu ketika kulup yang sudah terlepas tetapi menempel kembali atau kepala penis mengalami peradangan. Fimosis yang terjadi pada orang dewasa juga merupakan kondisi tidak normal. Orang dewasa yang mengalami fimosis dapat merasakan sakit, perih, dan menurunnya hasrat seksual.

Diagnosis Fimosis

Saat berkonsultasi dengan dokter, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh penderita, kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada penis. Setelah itu, dokter akan menentukan langkah pengobatan yang akan dijalani, tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang.

Komplikasi Fimosis

Meskipun fimosis pada anak-anak merupakan kondisi yang normal, fimosis dapat menimbulkan komplikasi berupa infeksi penis. Jika terjadi pada orang dewasa, fimosis dapat menimbulkan komplikasi seperti di bawah ini:

  • Fimosis yang terjadi secara
  • Posthitis atau inflamasi pada kulup.
  • Nekrosis atau pembusukan jaringan kepala penis.
  • Autoamputasi kepala penis akibat pembusukan jaringan.

Pencegahan

Mencegah terjadinya fimosis bergantung pada kebersihan area sekitar penis. Membersihkan daerah penis, termasuk ujung kulit bagian dalam dengan menggunakan air hangat setiap hari dapat membantu mengurangi atau mencegah gejala yang timbul. Hal ini membantu ujung kulit tetap longgar dan elastis serta mencegah terjadinya infeksi.

Pengobatan

Bagi orangtua yang anaknya mengalami fimosis, jangan sekali-kali menarik kulup penis secara paksa. Tindakan tersebut dapat memicu iritasi atau infeksi. Dokter akan memberikan langkah pengobatan jika fimosis menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Jenis pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan usia dan tingkat keparahan fimosis penderita. Berikut ini adalah jenis pengobatan yang dapat disarankan oleh dokter:

  • Obat-obatan. Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meredakan fimosis. Salah satu obat yang dapat digunakan adalah kortikosteroid topikal dalam bentuk krim, gel, atau salep. Obat kortikosteroid dapat membantu melenturkan kulup sehingga memudahkan untuk ditarik. Dokter juga dapat memberikan obat-obatan lain dengan penyebab fimosis. Jika pasien mengalami infeksi jamur, pasien akan diberikan krim antijamur. Sedangkan jika pasien mengalami infeksi bakteri, maka pasien akan diberikan krim antibiotik. Fimosis pada orang dewasa dapat menganggu aktivitas seksual karena menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri. Untuk mengatasinya, dokter dapat menyarankan penggunaan kondom dan pelumas ketika melakukan hubungan.
  • Sunat. Dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani sunat jika pasien mengalami balanitis atau radang kepala penis yang terjadi secara berulang, atau infeksi saluran kemih yang berulang. Sunat juga dapat dilakukan jika kulup menempel dengan sangat ketat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *